PENGERTIAN SEMANTIK
PENGERTIAN SEMANTIK
Semantik merupakan bidang bahasa membahas mengenai makna. Dalam pengertian, semantik mewujudkan makna. Definisi ini didasarkan pada asal kata sema (Yunani), sejenis objek, artinya “tanda” (simbol) dan samen, artinya “menandai” (melambangkan). Sedangkan lambang adalah simbol linguistik. Istilah semantik menggambarkan cabang ilmu bahasa yang menelaah kaitan antara simbol bahasa dengan maknanya.
Semantik merujuk pada banyak ide berbeda, mulai dari yang paling umum hingga yang paling teknis. Secara umum berarti bahwa masalah pemahaman itu berasal dari diksi kata maupun makna. Linguistik merupakan studi mengenai interpretasi tanda, lambang maupun simbol (sign) yang dipakai masyarakat pada situasi dan konteks tertentu. Dalam pandangan ini, suara, ekspresi wajah, bahasa tubuh dan sarana komunikasi lainnya memiliki muatan semantik (bermakna). Pada bahasa tulis, hal ini berupa tanda baca dan struktur kalimat yang memiliki konten semantik, struktur linguistik lainnya memiliki konten semantik yang berbeda.
Pengertian semantik
menurut para ahli seperti dipaparkan di bawah ini.
1.
Aristoteles
dalam Aminuddin (2008: 15), makna dan konteks lahir sebagai akibat dari kata
itu sendiri karena hubungan gramatikalnya.
2.
Plato
dalam Aminuddin (2008: 15) mengatakan bahwa semantik merupakan bunyi ujaran
yang memiliki makna tersirat tertentu.
3.
Ferdinan
de Saussure (1996), ada dua unsur semantik, yakni komponen interpretif dan
konkrit dalam bentuk tuturan, dan unsur yang ditafsirkan maknanya yang berasal
dari makna awalnya. Kedua unsur tersebut disebut tanda (sign), tetapi yang
tandai (dilambangi) diindikasikan sebagai sesuatu selain bahasa yang biasanya
diindikasikan sebagai referensi (sesuatu yang dirujuk).
4.
Tarigan
(1985: 2), semantik dapat dimaknai secara sempit dan luas. Dalam artian sempit,
semantik merupakan studi tentang kaitan antara simbol dan objek. Penampung
untuk menerapkan penanda ini.
5. Theo
Verhar (2001: 384), semantik bisa dibagi menjadi dua cabang, yakni semantik leksikal
dan semantik gramatikal. Dicontohkan, menurut Al-Qur'an, seorang Muslim adalah seseorang
yang tunduk sepenuhnya kepada Allah dan perintah-perintah-Nya dan yang percaya
pada monoteisme murni (keesaan Tuhan), sedangkan makna luasnya (linguistik),
studi tentang makna.
6. Abdul
Chaer (2009: 6-11), semantik sesuai tingkatannya maka dipelajari, yakni (1)
semantik leksikal meneliti kosakata bahasa, (2) Semanti yang meneliti makna dan
tataran morfologi, (3) jenis semantik yang berorientasi pada objek sintaksis,
dan (4) jenis semantik yang terlibat pada bentuk-bentuk penggunaan gaya bahasa.
7.
Charles
Morrist (1938), semantik adalah penggunaan bentuk bahasa kiasan dan mencari
hubungan-hubungan antara tanda dan objek yang merupakan sarana penerapkan simbol-simbol
tersebut.
8. J.W.M
Verhaar, (1981: 9), cabang sistematik bahasa atau cabang ilmu bahasa yang
mempelajari makna atau arti sebuah kata/istilah.
9. Lehrer
(1974: 1), semantik merupakan bidang studi yang sangat luas karena itu juga
mengacu pada aspek struktural dan fungsional bahasa yang dapat dikaitkan dengan
ilmu lainnya, seperti antropologi, filsafat, dan psikologi.
10. Kambartel mengasumsikan semantik
adalah bahasa yang berasal dari konstruksi ekspresi makna yang berkaitan antara
objek dan pengalaman individu dalam lingkungannya (Bauerk, 1979: 195).
11. Encyclopedia Britanica (1996: 313),
semantik adalah studi tentang hubungan antara perbedaan bahasa dan proses mental
(simbolik) dalam kaitan dengan aktivitas berbicara.
12. Mansoer Pateda (2010), semantik adalah
subbidang linguistik yang berhubungan dengan makna.
13. Aminuddin (2008), semantik merupakan
studi yang meneliti tentang makna sebagai kedudukan bahwasanya semantik adalah
cabang dari linguistik.
14. Chomsky (2006),
selain unsur sintaksis dan fonologis, teknik analitik juga dapat menggunakan penelitian
semantik untuk memahami ciri pembeda (fitur distingtif). Kemampuan menafsirkan
makna kata dan frasa bukanlah hal yang sepele dan harus dipahami niat dan tujuan
dalam memahami teks tertulis. Kemampuan itu akan menjadi kenyataan jika
seseorang dapat memahaminya.
15. Palmer dalam Djajasudarma (2009: 7),
semantik itu ada hubungannya dengan bahasa. Makna penting sebagai penghubung
dengan dunia luar bahasa yang dapat dipahami oleh pemakainya (konveksi).
Eksistensi makna memiliki tiga tingkatan, yakni isi sebagai wujud bentuk kebahasaan,
isi sebagai kebahasaan, dan isi sebagai komunikasi yang membentuk informasi
tertentu.
16. Sudaryat (2009: 3), bidang bahasa yang
menelaah tanda dan hubungan dengan hal yang ditandai yang dinamakan makna
(arti). Makna akan muncul ketika seseorang memiliki pengetahuan (pengalaman)
yang mengarah pada apa yang dialaminya (referensi).
17. Kridalaksana (2008: 10), semantik
adalah bagian dari struktur bahasa yang bermakna. Makna adalah maksud pembicaraan,
pengaruh unit linguistik pada pemahaman persepsi dan perilaku manusia atau
kelompok.
18. Keraf (1982), semantik merupakan cabang tata bahasa yang mengkaji makna linguistik tertentu, menemukan sumber serta evolusi makna sebah kata.
Berdasarkan pandangan dan
pemikiran para ahli tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa semantik adalah
cabang ilmu bahasa yang mempelajari dan menelaah seluk beluk lahirnya makna,
mulai dari makna langsung sampai pada penggunaan bahasa dalam bentuk gaya
bahasa. Dengan demikian, semantik tidak hanya mempelajari unsur-unsur kebahasaan,
melainkan juga hubungan bahasa dengan budaya pemakai bahasa tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Aminuddin.
(2008). Semantik (Pengantar Studi Tentang
Makna). Bandung: Sinar Baru.
Chaer,
Abdul. (2009). Pengantar Semantik Bahasa
Indonesia. Jakarta: PT Rineka. Cipta
Chomsky, Noam.
(2006). Language and Mind. Third Edition.
New York: Cambridge. University Press
De Saussure,
Ferdinand. 1996. Cours de Linguistique
Générale. Pengantar Linguistik Umum (Terjemahaan Rahayu S. Hidayat).
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Keraf,
Gorys. (1982). Diksi dan Gaya Bahasa.
Jakarta: PT Gramedia Pustaka.
Kridalaksana,
Harimurti. (2008). Kamus Linguistik.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Morris,
Charles. (1938). Foundation of the theory of signs.
Chicago: University of. Chicago Press.
Pateda, Mansoer. (2010). Semantik
Leksikal. Jakarta: Rineka Cipta.
Tarigan,
Henry Guntur. (1985). Pengantar Semantik. Bandung: CV. Angkasa
Verhaar,
JWM. (1981). Pengantar Linguistik. Jilid I. Yogyakarta: Universitas.
Gadjah Mada Press.

Komentar
Posting Komentar